MBI – Ikan Cupang , Panut Nur Fallah, pria 24 tahun asal Jambi itu kini menjadi kaya raya berkat bisnis ikan cupangnya yang terus menggeliat. Apalagi, di masa pandemi ini, banyak orang yang ‘mendadak’ gandrung dengan ikan cupang.

Bukan tanpa alasan! Pandemi ini telah menuntut masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah. Untuk mengusir rasa bosan, dijadikanlah ikan cupang sebagai ‘sahabat’ di rumah. Ya, jenis ikan ini memang memiliki warna yang cantik dan mudah dirawat sehingga sangat cocok dijadikan sahabat di dalam rumah.

Kembali pada kisah Panut. Pria ini mengaku berhasil mendapatkan omzet Rp 50 juta sebulan dari penjualan ikan cupang. Tentunya, omzet sebesar itu diraih dengan susah payah dan jatuh bangun dalam menggeluti bisnis ikan cupang.

Penasaran dengan perjalanan bisnis Panut hingga meraih omzet Rp 50 juta? Yuk simak, kisah sukses Panut, jadi kaya raya gara-gara ikan cupang.

Berawal dari Anak Kecil Beli Ikan Cupang

Perjalanan bisnis Panut Nur Fallah dimulai dari tahun 2014. Sebelumnya, pria asal Jambi ini mengadu nasib ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, dia bekerja di bidang konveksi.

Pada tahun 2014 itu-lah, Panut memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Dia mulanya tidak memiliki pekerjaan. Dan, karena itu dia hanya bisa ‘makan tidur’ alias jadi pengangguran.

Menjalani ‘karier’ sebagai pengangguran, Panut memutuskan untuk memelihara ikan cupang. Memang, sejak kecil, pria berusia 24 tahun itu gemar memelihara ikan cantik itu.

Dibelilah ikan cupang beberapa ekor dan diletakkan di dalam rumahnya. Nasib beruntung menghampiri pria itu. Di suatu hari ada anak kecil yang mengunjungi rumah Panut. dan melihat beberapa koleksi ikan cupangnya. Anak kecil itu pun tertarik untuk membelinya.

Panut Nur Fallah scaled
Panut Nur Fallah

Apa respons Panut? Dia tanpa pikir panjang menjual koleksi ikan cupangnya kepada anak kecil itu. Panut menghargainya Rp 5.000 untuk satu ekor ikan cupang.

Bermula dari Rp 5.000 ini-lah kisah sukses Panut dimulai. Pria asal Jambi itu betul-betul mendapatkan nasib beruntung. Anak kecil itu pun mengajak teman-temannya untuk melihat koleksi ikan cupang Panut.

Beberapa di antaranya tertarik untuk membelinya. (Kembali) tanpa pikir panjang, Panut yang sebelumnya tidak berniat jualan ikan cupang menjual ikan koleksinya kepada anak-anak itu.

Panut kemudian mampu melihat peluang bisnis di balik hobinya memelihara ikan cupang. Dia (lagi-lagi) tanpa pikir panjang membeli sejumlah ikan cupang lagi dan kembali menjualnya.

Mencoba Peruntungan Jualan di Facebook

Panut Nur Fallah mengaku menjalankan bisnis ikan cupang di rumahnya selama hampir setahun. Dia merasa capek dengan kegiatan itu karena harus bolak-balik kulakan untuk mendapatkan ikan cupang yang layak dijual. Apalagi, stok ikan cupang yang diinginkan Panut kadang-kadang tidak tersedia alias kosong.

Berkaca pada kejadian itu, Panut memutuskan untuk mengembangbiakkan ikan cupang sendiri. Ya, anak muda itu ternak ikan cupang secara mandiri.

Sembari beternak ikan cupang, Panut mencoba untuk mengepakkan sayap bisnisnya dengan berjualan di media sosial Facebook. Dia mengaku semua yang dilakukannya itu hasil dari belajar otodidak, dengan bantuan internet.

Apa yang dipelajari Panut? Pria itu mempelajari bagaimana tips sukses beternak dan memelihara ikan cupang dalam jumlah banyak. Kemudian mempelajari juga kiat-kiat sukses bisnis ikan cupang.

Bagi Panut, informasi terkait bisnis ikan cupang di Google hanya sekadar teori belaka. Dia kemudian mencermati pengalaman-pengalaman para pebisnis ikan cupang yang telah mencapai puncak kesuksesannya. Dari teori dan pengalaman orang lain itu-lah, Panut belajar untuk memperbesar bisnis ikan cupangnya. Kendati demikian, dia mengaku juga mencari ide sendiri untuk mengepakkan sayap bisnisnya.

Pembeli Pertama Luar Negeri dari Singapura

Panut Nur Fallah lagi-lagi mendapatkan nasib beruntung dalam menggeluti bisnis ikan cupangnya. Di tahun 2015, berkat jualan di media sosial, seorang warga Singapura tertarik untuk membeli ikan cupang koleksinya.

Panut menyebut waktu itu pembeli pertama dari luar negeri itu tertarik membeli ikan cupang jenis fancy crowntail. Ikan cantik itu dibanderol Panut dengan harga 35 dolar Singapura atau sekitar Rp 350.000.

ikan cupang scaled
Ikan Cupang

Untuk mengirim ke Singapura, Panut menggunakan jasa transhipper, yakni jasa yang melayani pengantaran dan pemeliharaan ikan di sepanjang perjalanan menuju ke alamat pengiriman. Panut mengaku harus membayar Rp 100.000 untuk menggunakan jasa itu dan uang yang digunakan berasal dari kantongnya sendiri.

Sejak saat itu, Panut terus menjajakan koleksi ikan cupangnya di media sosial Facebook, Instagram dan WhatsApp. Pria asal Jambi itu mengaku hingga saat ini bisnis ikan cupangnya fokus membuka lapak di ketiga media sosial populer itu.

Panut Nur Fallah Raih Omzet Rp 50 Juta

Jerih payah Panut Nur Fallah dalam menjalankan bisnis ikan cupang betul-betul membuahkan hasil pada tahun 2018. Bisnis yang bermula dari seorang anak kecil membeli ikannya Rp 5.000 itu mengalami perkembangan yang gemilang, yakni mencapai omzet Rp 50 juta per bulan.

Ya, Panut mampu menghasilkan omzet rata-rata setiap bulannya hingga puluhan juta. Kini dia sudah memiliki sejumlah reseller yang tersebar di Jabodetabek. Tidak berhenti di situ, reseller pria 24 tahun itu juga ada yang dari luar negeri, yakni Malaysia.

Panut mengaku setiap bulan harus memenuhi permintaan ikan cupang dari para reseller-nya itu, termasuk yang ada di luar ngeri. Sembari melakukan itu, dia tetap terus mencari reseller baru untuk meningkatkan keuntungan dari bisnis ikan cupangnya.

Pandemi Sempat Mengguncang Bisnis Panut Nur Fallah

Awal pandemi Covid-19 yang menerjang Indonesia pada Maret 2020 lalu sempat mengguncang bisnis ikan cupang Panut Nur Fallah. Ya, bisnis Panut sempat merosot tajam gara-gara bencana non-alam itu.

Lebih dari itu, harga jasa pengiriman pun mengalami kenaikan. Menanggapi ‘fenomena’ itu, Panut memutuskan untuk jualan ikan cupang di Jambi saja.

Namun, pandemi tidak selamanya membuat bisnis Panut terguncang. Di pertengahan tahun 2020 hingga saat ini, ikan cupang kembali menunjukkan eksistensinya. Ya, ikan cantik ini tiba-tiba digandrungi masyarakat Indonesia, bahkan tidak sedikit artis yang memeliharanya.

ikan cupang2 scaled
Ikan Cupang

Bagi Panut, ikan cupang yang kembali booming ini menjadi kejutan tersendiri. Omzetnya per bulannya pun kembali seperti semula. Dia bahkan lebih mudah memperluas pasar karena tingkat penjualan terus mengalami kenaikan.

Oh ya, pemuda asal Jambi ini pernah lho menjual ikan cupang dengan harga Rp 9 juta untuk satu ekor. Bukan tanpa alasan, harga mahal itu dibanderol karena ikan cupangnya memiliki warna yang unik, cantik dan sulit ditemukan di penjual-penjual lainnya.

Panut menyebut pembeli ikan cupang yang dibanderol dengan harga tertinggi itu berada di area Jakarta. Adapun di daerah kampung halamannya sendiri, harga tertinggi penjualan ikan cupang yang pernah dibanderol mencapai Rp 2,5 juta.

Baca juga:

Panut mengatakan kolektor ikan cupang akan menempatkan harga sebagai nomor dua dan kualitas sebagai nomor pertama. Hal ini-lah yang membuat kolektor tidak berpikir panjang membeli ikan cupang bagus meski dibanderol dengan harga fantastis.

Itulah kisah sukses Panut, jadi kaya raya gara-gara ikan cupang. Semoga dapat menginspirasi Anda, terutama yang saat ini menggeluti bisnis ikan cupang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like